Senin, 29 Juni 2009

BERDEFINISI SEJENAK: ALAY

Beberapa minggu yang lalu di akhir minggu bulan September, saya, dan dua teman saya,Ajie dan Rara sedang asik berbincang membuat sebuah cover untuk Bulletin Kampus Tiga yang akan mulai menerbitkan edisi perdananya (edisi ini maksudnya). Kami berbincang tentang konsep cover apa yang akan kami buat. Ketika itu, kami membicarakan siapa yang akan menjadi model untuk cover bulletin kami. Tercetuslah darimulut Ajie nama Yoka, saat ditanya kenapa Yoka, “si Yoka kan ALAY, jadi pasti mau.” Ujar Ajie. Ya, alay, kata ini memang amat populer 2 tahun belakangan ini. Kata ini biasa digunakan untuk menyatakan sesuatu yang sifatnya jelek dalam arti kampungan, tidak pantas, dan sebagainya. Namun untuk siapakah kata ini ditujukan? Dan apakah saya alay? Apakah Yoka alay? Ataukah Ajie yang alay? Ataukah kita semua memang alay? Untuk itu, pada tulisan kali ini marilah membedah, membincangkan, mendifinisikan kata yang satu ini: Alay.
Pendifinisian alay ini memnag membingungkan, atau mungkin saya yang bingung. Karena pendifinisian alay amatlah luas di masa kini. Saya mengingat kembali reunian teman-teman SMP saya sekitar 2-3 bulan lalu, di sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di sebuah daerah wisata yang terkenal dengan jajaran toko jeansnya yang amat banyak. Ketika kami sedang duduk santai, melewatlah sekumpulan anak muda yang memakai setelan baju ketat, celana skinny bermotif kotak-kotak, lengkap dengan kacamata hitam gayanya, yang membuat mereka terkesan dandan kelewat ‘total’. Teman saya langsung berbisik kepada saya, “Ih anj*r, alay pisan setelanna lah, kampring kitu ih. Hahaha!” Hmm, jadi apakah alay itu adalah sebuah istilah untuk sebuah gaya yang berlebihan dan kesannya norak? Tetapi kalau merujuk perbincangan saya dengan Ajie, Yoka sama sekali tidak alay gayanya. Yoka disebut alay karena dia hiperaktif dan sering bertingkah konyol dengan menirukan gaya bicara ala sinetron, yang membuat kesannya dia itu capruk (cerewet). Astaga, saya makin bingung mendefinisikan alay ini.
Saya membaca beberapa blog post di beberapa website, amatlah banyak kalau memang kamu tertarik membaca dan browsing internetmu tak hanya facebook. Orang-orang menafsirkan alay memang sangat luas, ada yang terlalu luas malah. Tetapi saya bisa ambil kesimpulan, bahwa alay adalah sebuah istilah yang berasal dari gabungan kaya Anak Layangan yang sering pula diidentikan dengan anak Jarang Pulang alias JarPul. Istilah ini biasa digunakan untuk mendeskripsikan untuk sesuatu tingkah, gaya, atau sikap yang sifatnya ikut-ikutan, dimana sesautu dilakukan seseorang karena merasa hal ini sedang nge-tren, tanpa melihat apakah si gaya hidup tersebut pantas diadopsi oleh mereka, dan mereka pun tidak tahu hal ini baik atau buruk, yang penting ikut tren dan mereka merasa dirinya gaul, simpelnya sih kata ini sama dengan labil. Okay, akhirnya saya mendapatkan sebuah definisi tentang apa alay itu. Tapi kenapa definisi alay yang ada di masyarakat jadi meluas?
Mau bukti? Lihat saja bagaimana lingkungan kita mendifinisikan Kangen Band. Dan kalau kamu sering ubek-ubek KasKus pastilah kamu tau apa itu Garnet Band. Itu tuh, band asal Jawa Timur kalau saya tidak salah yang fashion stylenya astagfirullah sekali. Di banyak kesempatan, banyak yang mengatakan, termasuk saya, acara-acara request music dimana acara tersebut dibuat live, artisnya berisi band-band yang kurang bermutu yang membawakan lagunya dengan cara lipsync, dimana groupies adalah orang-orang berpenapilan norak dan berlebihan yang berjoget-joget gak jelas adalah acara para alay, tak usahlah disebut acaranya apa wahai kamu juga sudah pasti tau itu acaranya apa. Di friend-networking sites macam Facebook dan Friensdster pun ada profil alay. Mereka yang mendeskripsikan diri merekadengan bahasa Inggris belepotan dan narsis (‘Aku tuh, baek, lucu, imut, dsb.) dianggap alay. Tapi yang paling menegjutkan adalah ketika saya menemukan sebuah group page di Facebook yang namanya “Against ALAY In FACEBOOK.” Page ini adalah himpunan manusia trendi yang merasa dirinya tidak alay dan menghina alay lewat profilnya dengan mendeskripsikan gaya-gaya alay yang nyaris lengkap dan mungkin itu salah merupakan pedoman beberapa dari kalian pembaca tulisan ini yang merasa dirinya trendi. Gaya SMS pun ada yang diistilahkan sebagai SMS Alay. Gaya ngetik yang sulit dimengerti dan hurufnya gede kecil (contoh: Qm gY Aph?) adalah alay. Saya pun merujuk kepada teman saya, Kiki, “Alay itu orang-orang kampungan, yang suka nongkrong ga jelas, kaya anak-anak di BIP, itu alay.” Wah apakah sekarang ada pula tempat nongkrong alay? Kalau begitu kamu anak-anak trendi yang gak alay pintar-pintar lah milih tempat nongkrong, biar kamu gak jadi alay.
Dari apa yang saya lihat dan saya dengar jelaslah kalau pendifinisian soal alay sudah kelewat jauh. Kenapa bisa begitu luas definisinya dan kenapa bisa ada yang dibegitukan (digolongkan alay)? Saya merujuk kepada suatu alat hiburan hasil peradaban abad 20 bernama televisi. Kaum yang disebut alay bermunculan akibat adanya televisi. Mengapa televisi? Karena televisi adalah sebuah hiburan rakyat yang sifatnya instan dan bisa mendoktrin kamu dengan cepat apabila kamu dalam sehari menonton berbagai hiburan terkini, apalagi kalau kamu nontonnya infotainment dan sinetron yang isinya bintang-bintang yang ganteng, cantik, dan modis di TV paling tidak 6 jam sehari, rakyat kalangan bawah yang (maaf) fisiknya mayoritas tidak menunjang, dan kurang secara finansial sering melakukan kebiasaan macam ini akan terbangkitkan keinginannya untuk menjadi seperti mereka, memanfaatkan semua yang mereka miliki untuk berusaha menjadi semirip mungkin dengan apa yang mereka puja. Yang mereka tidak sadari adalah bahwa yang mereka terapkan itu tidak pantas dan tentunya tidak enak dilihat dan jadi norak menurut kita orang-orang kota yang memiliki fisik dan kemampuan secara finansial yang’pas’ (paling tidak itu menurut saya), yang akhirnya kita sebut alay. Televisi pula yang membuat pendifinisian kita soal alay makin luas. Buktinya? Lihat saja acara-acara musik live tadi. Karena acara tersebut dihadiri alay dan saya yakin banyak dari kamu, juga termasuk saya kadang-kadang suka melihatnya hampir setiap hari di pagi hari sebelum kamu kuliah. Karena acara itu dihadiri alay maka kamu pun menyebut itu acara alay walaupun secarakamu tidak sadari kamu nonton itu tiap hari. Aah tidak, jadi kita termasuk alay? (mungkin setelah baca ini kamu langsung ketar-ketir berhenti liat acara macam tadi demi tidak disebut alay, paling tidak kamu mantan alay.)
Kalau menurut saya pribadi, kita semua alay, hanya kadarnya saja yang berbeda. Setiap manusia selalu punya sisi kampungan di dalam dirinya, sekalipun kamu anak gaul yang selalu up to date dan punya teman yang ganteng-ganteng dan canik-cantik tak lupa modis, tetaplah kamu alay, seperti kata Immanuel Kant, “Kebenaran itu sifatnya relatif.” Dan seperti kata sebuah teori, kebenaran adalah kebohongan yang diulang-ulang.”, yang akhirnya saya simpulkan menjadi teori saya sendiri bahwa kebenaran itu relatif tergantung seberapa sering lingkungan kamu mengulangi membohongi kamu. Lagipula tidaklah tepat kita mengatakan alay adalah orang-orang macam itu. Seharusnya yang digolongkan para alay itu adalah sekumpulan orang yang melakukan kegiatan gak bermanfaat seperti mabuk-mabukkan, clubbing dsb, yang mereka sendirigak tau itu manfaatnya apa dan buruknya apa, yang penting saya up to date. Maka dari itu, setelah membaca ini berhati-hatilah kalau kamu mengatakan bahwa kamu bukan alay dan bilang si ini alay atau si itu alay. Karena alay itu cuma masalah perspektif. Jadi, apakah kamu alay? Apakah saya yang alay? Ataukah kita semua yang alay?

Salam Penulis :-bd

3 komentar:

  1. saat otak sedikit agak kacau, sempat berpikiran seperti ini:
    sebelum gaul, harus alay dulu.

    entah benar atau tidak :D

    BalasHapus
  2. well kayanya emang iya sih. tapi kalo menurut gw pemahaman alay yang sekarang itu kita mencoba untuk mengadopsi suatu cult, tapi gak pantes. tapi ya kita tetep maksa untuk make hal tsb. walhasil dicibir orang deh. sundanya mah, "mamantes sia jaba ngewa." hahaha. thx 4 view ya..

    BalasHapus
  3. pernah liat sebuah id seperti, ce_uchul_visundh, ga?

    sebenernya gue suka ketawa kalo ngeliat kaya gitu.
    ketawa ngejek mungkin tepatnya.

    sebenernya ga ada yang salah sih sama nama id dia.
    cuman gimanaaaaaaaaaaaaaa gitu ya

    BalasHapus