Rabu, 09 September 2009

lost.

I'm started to missing your presence in every steps I take.
I'm started to confused, which way I'll go.
Could please show up, and guide me?
'Cause I'm lost out here.

Selasa, 08 September 2009

Ivy - I Guess I Just a Little Too Sensitive

I used to do my utmost to suspend belief
Until the day it hit me like a kick in the teeth
In the sensitivity stakes you're less than a non-starter
You don't need a lover you need a sparring partner

I guess I'm just a little too sensitive
I guess I'm just a little too sensitive
I guess I'm just a little too sensitive

For you

When you say your love is as bold as a flag
I say all I've got to show's a tattered rag
I guess I'll never learn to take the rough with the smooth
I'll never learn to live with that much abuse

I guess I'm just a little too sensitive
I guess I'm just a little too sensitive
I guess I'm just a little too sensitive

For you

I came home from work each evening
To collapse in a heap at your knees
Now I'm gonna take a rest cure
I'll rent a cottage by the sea

Rabu, 12 Agustus 2009

CERITANYA JALAN-JALAN MAU NONTON KONSER MEW (part 3)

Ya akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk melihat band favorit kami tercinta, Mew. Tak sabar rasanya saya (atau kami) melihat Jonas, kyaaa! (apalnya Jonasnya doank). Oh iya, Nando melewatkan cerita si Riznan sesudah kita buang air kecil tadi. Risnan alias si Caplak katanya pengen makan. Akhirnya bersuaralah Risnan memberi usulan buat makan. Saya lupa kata-katanya apa, (tuh kan baru awal aja saya udah ga jelas gini nyeritainnya, gimana ga kurang garing coba?) yang jelas kita dari yang tadinya mau naik ke mobil ngelanjutin perjalanan jadi ajah liat-liat tempat makan di tempat itu. Awalnya mah kaya yang mau makan, kita nyamperin tempat makan yang deket WC tadi. Tapi kata Fuad, “Eh da yang enak kalo ga salah mah di seberang Nan,”. “Ya sok atuh yang di depan,” kata saya. Tanpa pikir panjang, kita membelokkan badan 360 derajat ke arah rumah makan yang di seberang, pas kita udah di depan tempat makan dan sang pramusaji sudah siap memberikan meja sambil berkata, “Mari mas, ada Soto..” eh si Riznan malah bilang, “Ntar aja lah Fu di Jakarta.” Walhasil si Pramusajinya mukanya langsung rada-rada asem gimana gitu mukanya. Riznan oh Riznan, ternyata bukan leher kamu aja yang suka goyang-goyang, ternyata pendirian kamu juga suka goyang-goyang (baca: ga konsisten). Yah sudahlah, akhirnya lanjutlah itu perjalanan ke Jakarta, ke rumah Maulana Malik Ibrahim alias Nando, yang (mungkin) satu-satunya orang yang ga nyepet saya di cerita ini sampai part selanjutnya mungkin. Ckckck, kasian banget yah jadi saya.

di perjalanan kami mendengarkan berbagai macam lagu, saya lupa lagi tuh lagu apa aja yang disetel. Saya sempet minta Four Year Strong kalo ga salah abis itu, sempet Pee Wee Gaskins juga lengkap dengan gimmick-nya si Rain nyanyi centil ala SanSan dengan muka yang ga banget lah pokonya najong. Fuck Anying Fuck lah! Setelah dari tempat pipis itu memang ga banyak yang bisa diceritakan karena mayoritas sudah ngantuk. Tapi tentunya kami mendengarkan Mew biar nanti siap sing along gitu deh di sana.

Singkat cerita, sampailah kami di tol tebet, lalu masuk tol kalibata. Saya lupa, Kalibata tuh dimana, saya nanya ama Nando, “Kalibata teh nu Taman Makam lain?” si Nando mengiyakan. Tapi tiba-tiba si Fuad nyamber aja, “ah maneh cuma tau Taman Makam aja belagu lah!” Astaga Fu, saya nanya ini mah, bukan sok tau, suer deh. Rumah Nando tidak terlalu jauh dari tol Kalibata, kira-kira 15 menit lah. Muternya rada jauh, maklum beberapa belokan buat putar balik cuma boleh buat angkot. Rumahnya sih di daerah kompleks, rumah besar dengan 2 lantai berwarna pink dengan pagar tinggi warna hitam. Sampai disana, yang ada di rumahnya cuma asisten ibunya apa bapaknya Nando gitu, lupa lagi saya. Dia membuka gembok pagar rumah itu, saya masih ingat kombinasi kuncinya 2-7-9-0. Masuklah kami ke rumah Nando yang adem dan besar tersebut. Di garasi saya lihat mobilnya ada stiker anggota DPRD, oh ternyata orang tuanya Nando anggota DPRD (sebetulnya ga terlalu penting yang ini buat diceritain, cuma ini intermezzo aja, hahaha.). naiklah kami ke lantai 2 rumah tersebut. Tak lama kemudian, Nando membuka pintu kamar dan menyuruh kami menaruh tas di dalam kamar tersebut. Kemudian entah Riznan atau Fuad, nanyain kamar itu boleh dipake tidur ga? Oh, boleh kata Nando, Fuad dan Riznan langsung aja make setelan boxer kaya di rumah masing-masing. Dasar anak jaman sekarang,ckck. Saya sih ikut arus, jadi saya yang ketiga. Hahaha.

Awal kami datang kami melakukan kegiatan standar orang Indonesia kebanyakan kalau lagi di rumah. Yak betul! Nonton TV, dan kami nonton Cookies minus Acong yang lagi mandi. Ceritanya ga jelas gitu deh pokonya melibatkan VW kodok (beetle) dalam suatu kisah cinta. Saya, Nando dan Rain sibuk ngebahas cewe pemeran utamanya karena putih cantik mulus sekali yang tak dinyana adalah seorang janda anak satu, wow. Setelah ngebahas itu kemudian kami membicarakan beberapa artis yang aduhai bohai. Pokonya yang saya ingat Magdalena karena dia oke sekali.

Karena udah ga ada kerjaan dan ngantuk pula, akhirnya Acong, Fuad, dan Riznan tidur bersama di satu ranjang. wow, wow, wow, jangan salah sangka sodara, mereka tidur di satu ranjang karena ranjangnya cuma satu. Tapi di kasur tersebut saya melihat si Fuad dengan agresifnya meluk-meluk Acong. Katanya sih karena biasanya di rumah kalo tidur pake guling, aahhh masa? Hahaha bercanda Fu. Kalo si Riznan udah setengah ngantuk tapi tetep sibuk mengang HP, kayanya sibuk YMan. Saya juga sebenarnya udah mau tidur tapi karena kasurnya penuh dan nanti diejek lagi menuh-menuhin tempat, akhirnya saya tetap bangun nonton acara-acara highlights bola. Jam pun menunjukkan pukul setengah tiga sore, dan kami bersiap-siap mengenakan setelan komplit. Fuad dan Rain kembaran bajunya, yaitu baju band ‘Autumn Ode’. Band apa? Ya baju band mereka sendiri. Kayaknya mau promosi terselubung gitu deeh. Tanpa banyak lama, saya mengajak mereka untuk berangkat. Dan kami pun segera berangkat menuju tempat dan acara yang kami ingin datangi dari Bandung, Java Rockin’ Land!

Nyambung gan, ke Part 4.

CERITANYA JALAN-JALAN MAU NONTON KONSER MEW PART 2 (MADE BY NANDO)

Oke.
Jadi berangkatlah 4 kawanan trendy dari bandung timur. untuk menjemput Dendy terlebih dahulu baru menjemput saya. Saya ini tergolong anak muda kurang ajar. Sama riznan, raindra, fuad saja saya yang kenal. isi mobil yang lain seperti acong atau dendy atau shendy aduhai saya belum kenal pada saat itu. tapi tak apa lah. alhamdulillaah mereka baik hati saya jadi dapat berangkat menuju java rockin'land dengan bersukaria.

jadi deh ya saya sudah berdiri di depan STSI buah batu. cari innova yang mana ya mobil fuad. oh itu dia yang warna hitam !! oh bukan. malu lah anjis saya udah rada ngacung taunya ibu-ibu pakai kerudung kayanya mau belanja ke Griya. oh mungkin yang itu. ya benar yang warnanya krem. saya lihat ada Fuad mengemudi. Rain disebelahnya sebagai asisten. saat saya mau masuk mobil, sudah ada riznan dan acong ditengah, dan dendy aduh si dendy sedang di belakang.

saya mau masuk aja ke belakang, saya lipat kursi, eh ternyata pada bilang "Naha si nando nu jadi ditukang ?" oh salah formasi. ya sudah saya ditengah bersama riznan dan acong. hai acong. kenal deh kami berdua. hai dendy. kenal juga deh.

kemarin nya saat di zoe saya diceritakan oleh si rain bahwa dendy adalah anak yang paling sering dijahili oleh rain sendiri. oh ternyata tidak. banyak yang ngejahilin dendy. satu mobil semuanya menjahili dendy. tapi sungguh dendy anak yang sangat sabar. saya ikut ketawa saja. ngga enak euy den. hehe. sampai katanya akan dibikin Grup Facebook "GERAKAN BUANG DENDY KE SUBANG." aih jahatnya.

"Mau mau aja si nando pengen duduk sama si dendy." saya lupa itu siapa yang ngomong. saya hehe hehe saja. waktu itu ipod fuad yang di direct ke tape mobil sedang memutar lagu Pee Wee Gaskins. kami menuju unpar. untuk menjemput shendy yang katanya sudah menunggu lama di halte.

jret aja sampai di unpar. tah si shendy kata rain. pakai kaos warna biru. langsung masuk lah dendy dan duduk dibelakang. "Si Shendy mau mau aja duduk sama Dendy." kalau tidak salah itu rain yang bilang. lalu mulai ditimpali oleh yang lain satu persatu.

sebelumnya, saya di mobil itu merupakan orang yang penting. hahaha. nteu ketang. maksudnya saya ditugaskan sebagai penunjuk jalan dari bandung menuju rumah saya di kalibata jakarta lalu ke ancol. sudah saya ingat baik-baik jalan nya. saya tulis di notes hape saya lalu saya bilang ke rain "Rain, ieu aya di notes hp urang. buka we ngke bisi kasarean.." artinya ya itu kalau saya nanti ketiduran, buka saja hp saya. disitu ada petunjuk jalannya.

sudah masuk tol kami sekarang. belum apa-apa sudah ada papan petunjuk jalan "SUBANG-CILEUNYI" ke arah kiri. lalu Dendy menantang.. "mana katanya mau ngebuang aing ke subang ?" lalu dilanjutkan dengan timpalan-timpalan bertubi dari yang lain semacam "ya udah den, berenti aja disini ?" atau " sok atuh den turun den.." dll. lalu Dendy si sabar menjawab "ngga ketang ah, aing mah mau ngeruk kapur aja." maksudnya ngeruk kapur itu kalau di jalan mau ke puncak kan suka ada tuh yang di cipanas gunung kapur di keruk. tapi kita lewat tol den. tidak lewat puncak.

saya ikut ketawa dan musik yang mengalun saat itu adalah Klaxons.

lalu tiba-tiba Fuad membanting stir ke kiri.. "Anjis ! hampir aja kelewat.. untung urang pembalap." apa maksudnya ?
ooh rest area. Fuad ingin pipis ternyata. turun lah kami semua dari mobil. untuk pipis berjamaah. menuju toilet rame-rame kaya anak band. iya gitu anak band ke toilet rame-rame ?

di atas pispot berdiri ada tulisan yang cukup menggelitik. "AWAS BARANGNYA KETINGGALAN."
insya 4JJI barang saya tidak. barang yang lain juga tidak. iya tidak ?

saya bilang ke rain, "foto-foto atuh in." lalu rain bergegas mengambil dua kamera andalannya. exilim pocket dan holga. tapi ketika rain hendak mengambil kamera, dia membuka pintu mobil innova, sudah masuk didalamnya tapi kok ada suara bapak-bapak yang sambil menunjuk rain dari arah rumah makan soto sadang. "WEH WEH WEH ITU !!" katanya.

ternyata rain salah masuk mobil.

-bersambung ke part. 3-

CERITANYA JALAN-JALAN MAU NONTON KONSER MEW (MADE BY ACONG)

Minggu pagi hari itu dalam lelapnya kenikmatan tidur, saya terbangun tiba-tiba karena handphone saya berbunyi keras sekali. Bunyinya memekakkan telinga hingga rasanya membuat jantung saya serasa mau copot karena kaget. Di handphone itu tertulis “akun.rain CALLING”, rupanya itu adalah telepon dari teman saya Raindra anak Jurusan Akuntansi UNPAR.


Saya sebenarnya telah lama mengenal dia, dia teman satu SMP saya. Tetapi akhirnya kami berjumpa lagi karena sebuah pertemuan di salah satu studio musik di Bandung. Kami bertemu pada sesi latihan bandnya Rain (panggilannya dia). Pada saat itu saya datang sebab bandnya yang bernama Autumn Ode sedang membutuhkan seorang drummer pengganti, karena Fuad sang drummer, tidak dapat ikut dalam sebuah event yang akan diisi oleh Autumn Ode beberapa pekan yang akan datang (dan ujung-ujungnya ga jadi, damn!) yaitu launching album sebuah band beraliran Trip-Hop asal Bandung, Everybody Loves Irene. Tanpa pikir panjang saya angkat telepon itu.
Saya: “Halo”
Rain:”Cong dimana?
Saya:”Iya ini mau berangkat” (padahal bohong, baru juga kebangun gara-gara teleponnya dia)
Rain:”Oh, ya udah”
Saya:”Sip!”
(Dan percakapan pun selesai)


ANJIS KESIANGAN DONG!
Teriak saya karena kaget.

Jam dinding sudah menunjukan pukul 06.30, padahal saya ada janji sama Rain jam segituan buat jemput dia. Hari itu kami berdua mau pergi ke acara festival musik terbesar dan pertama di Indonesia yaitu JAVA ROCKIN’ LAND. Buru-buru saya memakai baju bertulisan Stockholm berwarna biru, dan celana jeans ketat andalan saya (padahal saya belum mandi,hahahaha), habis itu masuk ke kamar mandi dan gosok gigi lalu ambil air segayung buat cucI muka biar enggak keliatan caludih (kucel dalam bahasa sunda), setelah itu baru pakai sepatu. Tiba-tiba “GRRRUK” suara gesekan pintu dan lantai kamar orang tua saya yang khas itu terdengar di telinga. “mau kemana kamu?” Tanya Ibu saya yang baru buka pintu. “ Ahhh, Udah bangun duluan euy”, dalam hati saya berkata.

Rencananya saat itu saya mau pergi diam-diam ke Jakarta karena ibu saya tidak mengizinkan saya untuk pergi karena takut anaknya ini kena bom, seperti Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Awalnya saya juga takut, cuman kemarin baru nonton Densus 88 menang perang-perangan sama Om Noordin (yang katanya sih gitu) jadi berani pergi, ditambah lagi yang mau nge-bom rumahnya SBY udah ketangkep beberapa waktu lalu tambah aja saya berani buat pergi, kalau gak pergi sayang ticketnya juga sih, soalnya saya pergi kesana buat nonton band asal Denmark, MEW. “Mmmau ke rumah temen ma”, (pasang muka tanpa dosa padahal emang mau ke rumah temen tapi udah itu pergi ke Jakarta, hehehehe).

“Ah bohong kamu! Mau ke Jakarta ya?”, Tanya Ibu saya karena anaknya ketauan bohong karena ngomongnya gelagapan. “iya deng mau ke Jakarta ,hehehehe” (malu udah ketauan). “Si Keke ikut gak?” Tanya ibu saya tentang pacar saya yang mau pergi ke tempat yang sama. “Ikut ma, tapi bareng rombongan temennya”. Mendengar kabar itu, Ibu saya tidak komentar banyak, lalu ibu saya masuk kedalam kamar dan bertanya lagi. “Kamu ada uang berapa?”, sambil mencari dompetnya dikamar. “Ada lah ma”,Jawab saya ragu-ragu karena gak enak buat minta duit, apalagi duitnya buat main dan seneng-seneng. “Ada berapa?”, Tanya ibu lagi. “Yaudah ma, minta dua puluh ribu aja deh” (dan tau nya jajanan disana mahal-mahal saya baru inget pas udah sampai disana tapi karena gak enak sama ibu saya ya apa boleh buat).

Ibu saya mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan. “Ini kalau ada kembalian balikin lagi ke mama ya!” Ibu berkata dengan wajah yang serius karena biasanya kalau saya dikasih uang lebih, kembaliannya suka gak ada kabar (hahahaha), (tulisan ini harus ditebelin biar inget terus). “Siap!”, dengan yakin saya jawab padahal ujung-ujungnya pasti duitnya habis. Segera setelah itu saya meluncur ke rumah Rain.


Sesampainya di rumah Rain, saya menunggu di depan halaman rumahnya. “In, udh di depan”, tulis saya dalam pesan singkat di handphone, Lalu dikirimlah pesan itu kepada Rain. Tiba-tiba ada sosok lelaki cungkring (Tinggi dan Kurus, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia) keluar dari rumah itu. Ternyata itu Rain. “Kalem cong!” dia berkata sambil memakai kain bandana hitam dikepalanya khas Arian13 yang vokalisnya band Seringai, padahal gak ada pantes-pantesnya dia pakai yang begituan, malah dia terlihat seperti pegawai proyek bangunan seperti tetangga sebelah rumah saya. Tak lama kemudian ia keluar rumah dengan memakai helm dan ransel di punggungnya. “Langsung ke si Fuad aja cong”, katanya. “oke”, jawab saya sambil menyalakan mesin motor dan tancap gas menuju rumah Fuad. Kami menuju rumah Fuad dengan maksud tujuan untuk nebeng mobilnya dia buat ke Jakarta, karena dia juga niatnya mau nonton acara yang sama.


Udara pagi itu dingin, tetapi tidak terlalu menusuk tulang. Gedebage saat itu sudah aktif karena waktu itu sudah menunjukkan jam nya ibu-ibu pergi ke pasar. Diperjalanan kami ngobrol-ngobrol tentang berita saya kecelakaan tabrakan dengan angkot, dua hari yang lalu.
“Itu maneh (kamu) tabrakan yang kemarin gimana?”,Tanya dia. “Ya gitu wee, gara-gara aing (saya) ngantuk” jawab saya sambil mengerem motor di perempatan Gedebage karena lampu stopan sedang merah. “Tapi aneh siah in, motor sayanya gak apa-apa in cuma lecet, justru si angkot bempernya penyok sama besi hiasan di bemper angkotnya mau patah. “Terus ngegantiinnya berapa?” Tanya Rain sambil memegang pegangan didekat jok motor, karena lampu stopan sudah hijau dan motor sudah waktunya maju lagi. “250 ribuan sih harusnya, Cuma ditawar jadi 200 ribu, itu udah semuanya beres termasuk besi yang patahnya itu”,jawab saya. Beberapa menit kemudian kami sudah sampai Rancabolang, dan obrolan pun masih berlanjut.


“Kemarin kata lanceuk urang (kakak saya) pas dia KKL (Kuliah Kerja Lapangan) temennya dia kesurupan siah cong”. “wanjir, ceritanya gimana?”,tanya saya penasaran. “Jadi itu ternyata gara-gara si jurig (hantu) yang ngerasukinnya bogoheun (naksir) sama temennya lanceuk urang itu. “Edan, parahlah tapi udah gak apa-apa kan sekarang?”, tanya saya lagi sambil membelokkan motor kearah jalan menuju rumah Fuad. “Udah, udah diusir sama kyai gitu”, jawab Rain sambil liat-liat kesana kemari.
Akhirnya kita sampai di rumah Fuad jam 07.05, tapi disana motor Riznan, teman kami yang janjinya datang jam 07.00 itu belum terlihat. “si inan belum datang euy”, kata saya. “Ah biasa si inan mah bos”,jawab Rain pendek sambil cengengesan benerin poni rambutnya yang katanya baru.


Di balik pintu pagar rumah Fuad, terlihat seorang lelaki paruh baya yang lebih tepatnya seorang bapak-bapak. Sosoknya berambut putih menandakan umurnya yang sudah tidak lagi muda, dan ia mengenakan kemeja coklat dan bercelana panjang blue jeans, perawakannya agak tinggi dan kurus, belakangan saya tau, bapak itu masih kerabat Fuad. Lelaki tersebut bertanya pada kami, “Mau ke Fuad ya?”. “iya om”, jawab Rain. “Sebentar ya”, lalu bapak itu memanggil Fuad. “Mas Fuad, mas, ini ada temennya nih!”. Tidak lama kemudian Fuad keluar, dan spontan ia bertanya pada kami. “Mana si Inan?” maksud dia Riznan. “Gatau, kirain udah duluan kesini”, jawab saya sambil memindahkan motor ke dekat tong sampah depan rumah Fuad. Lalu ia pun menjawab bahwa dari tadi juga ia belum melihat ada tanda-tanda si caplak sudah datang (panggilan akrab si inan).

Tukang kupat tahu pun melintas di hadapan kami pelan-pelan seolah memancing kami biar beli, lalu Fuad memanggilnya karena ia berniat untuk beli. “Mang, kupat tahu nya satu, eh kamu mau ga cong?”,Tanya Fuad. Tanpa ragu-ragu saya jawab karena belum sarapan,“Sok deh boleh”. “Yaudah mang jadi dua”, kata Fuad sambil memanggil gak tau kakaknya atau adiknya yang dipanggil buat ambil piring dua buah buat kupat tahu. Sambil nunggu tukang kupat tahu, kita lanjut ngobrol-ngobrol. “Si Inan dimana sih? Coba rada ditelepon fu”, (bahasanya anak jaman sekarang).
Lalu Ia menelpon saudara Riznan yang gak jelas lagi dimana. Setelah lima detik menunggu akhirnya telepon diangkat, dan ternyata si caplak baru bangun tidur. “Anjis baru bangun tidur lah!”,Fuad berkata. “wah baleg?” (wah yang bener?), Rain disitu agak bereaksi karena ia dan saya merasa ditipu oleh si inan. Akhirnya kita makan kupat tahu dan ujung-ujungnya kami ngomongin si Inan yang tidurnya susah dibangunin kayak orang mati.

Selesai makan kupat, Fuad bangkit dari tempat duduk, “cong, pinjem motor dong, mau beli pulsa dulu”. Setelah merogoh saku, saya kasih kunci itu ke Fuad. “Eh fu nitip beliin esia yang 5000 dong, ini duitnya, nomernya udah tau belum?” Tanya saya. “Nih udah ada”,jawab Fuad dan ia pun pergi menuju tukang pulsa sambil mengendarai motor saya.

Tiba-tiba ada seorang lelaki paruh baya lagi, tapi beda dengan yang sebelumnya. Ia mengenakan Polo Shirt warna hitam dan rambutnya yang tipis beruban. Ternyata itu Om Basuki, bapaknya Fuad. “Kalian mau ke Java Rockin’ Land, emang ada apa aja disana?”,Tanya bapaknya Fuad. “Ada band-band gitu om, tapi kesana niatnya mau nonton band asal Denmark gitu, namanya MEW”. “oo, itu om pinjem dong yang dikepala kamu”, kata si om. Ternyata si om mau pinjem bandana item punyanya si Rain. “Nih om”, lalu dipakailah bandana itu dikepala si om. “Bagus ga om pake ini?”,Tanya si om sambil bergaya di depan si Rain. “Wesss, udah kaya rocker om”,jawab rain dengan antusias, dan saya pun menahan tawa karena si om pake bandananya malah kaya iket kepala orang baduy. Lalu bandana itu dikembalikan lagi ke Rain.

Waktu menunjukkan pukul 08.25 dan si inan belum juga datang. Fuad yang baru kembali dari tukang pulsa, datang tanpa bawa motor. “Fu, motor mana?” Tanya saya bingung. “Itu udah di rumah sana”, sambil menunjuk kearah rumah satu lagi yang sedang di renovasi. “oo, kirain kemana” jawab saya dengan perasaan lega.

Sambil menunggu si Inan, kita naik ke mobil sambil beres-beres isi dalam mobil. “jadinya yang ikut mobil siapa aja fu?”, Tanya saya. “jadinya si Nando, Shendy, sama si Dendy terus ditambah kalian”, jawabnya. Tidak lama kemudian Si inan datang naik motor Honda Beat sambil cengengesan. “Anjir aing ketiduran lah”, kata si Inan sambil buka helm, dan memarkir motornya di sebelah mobil Innova nya fuad. Lalu dia naik mobil dan duduk di sebelah saya. “Aing didepan ah!” kata si Rain sambil keluar mobil dan membuka pintu depan.

Tiba-tiba Si Om memanggil Riznan. “Nan, Motornya om pinjem ya, mau cukur rambut”. Lalu Fuad menjawab sambil teriak. “Apaan yang mau dicukur, botak gitu!”, Tertawalah seisi mobil itu.
Setelah itu kami bergegas pergi untuk menjemput Nando di STSI.


BERSAMBUNG KE PART.2

Senin, 29 Juni 2009

BERDEFINISI SEJENAK: ALAY

Beberapa minggu yang lalu di akhir minggu bulan September, saya, dan dua teman saya,Ajie dan Rara sedang asik berbincang membuat sebuah cover untuk Bulletin Kampus Tiga yang akan mulai menerbitkan edisi perdananya (edisi ini maksudnya). Kami berbincang tentang konsep cover apa yang akan kami buat. Ketika itu, kami membicarakan siapa yang akan menjadi model untuk cover bulletin kami. Tercetuslah darimulut Ajie nama Yoka, saat ditanya kenapa Yoka, “si Yoka kan ALAY, jadi pasti mau.” Ujar Ajie. Ya, alay, kata ini memang amat populer 2 tahun belakangan ini. Kata ini biasa digunakan untuk menyatakan sesuatu yang sifatnya jelek dalam arti kampungan, tidak pantas, dan sebagainya. Namun untuk siapakah kata ini ditujukan? Dan apakah saya alay? Apakah Yoka alay? Ataukah Ajie yang alay? Ataukah kita semua memang alay? Untuk itu, pada tulisan kali ini marilah membedah, membincangkan, mendifinisikan kata yang satu ini: Alay.
Pendifinisian alay ini memnag membingungkan, atau mungkin saya yang bingung. Karena pendifinisian alay amatlah luas di masa kini. Saya mengingat kembali reunian teman-teman SMP saya sekitar 2-3 bulan lalu, di sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di sebuah daerah wisata yang terkenal dengan jajaran toko jeansnya yang amat banyak. Ketika kami sedang duduk santai, melewatlah sekumpulan anak muda yang memakai setelan baju ketat, celana skinny bermotif kotak-kotak, lengkap dengan kacamata hitam gayanya, yang membuat mereka terkesan dandan kelewat ‘total’. Teman saya langsung berbisik kepada saya, “Ih anj*r, alay pisan setelanna lah, kampring kitu ih. Hahaha!” Hmm, jadi apakah alay itu adalah sebuah istilah untuk sebuah gaya yang berlebihan dan kesannya norak? Tetapi kalau merujuk perbincangan saya dengan Ajie, Yoka sama sekali tidak alay gayanya. Yoka disebut alay karena dia hiperaktif dan sering bertingkah konyol dengan menirukan gaya bicara ala sinetron, yang membuat kesannya dia itu capruk (cerewet). Astaga, saya makin bingung mendefinisikan alay ini.
Saya membaca beberapa blog post di beberapa website, amatlah banyak kalau memang kamu tertarik membaca dan browsing internetmu tak hanya facebook. Orang-orang menafsirkan alay memang sangat luas, ada yang terlalu luas malah. Tetapi saya bisa ambil kesimpulan, bahwa alay adalah sebuah istilah yang berasal dari gabungan kaya Anak Layangan yang sering pula diidentikan dengan anak Jarang Pulang alias JarPul. Istilah ini biasa digunakan untuk mendeskripsikan untuk sesuatu tingkah, gaya, atau sikap yang sifatnya ikut-ikutan, dimana sesautu dilakukan seseorang karena merasa hal ini sedang nge-tren, tanpa melihat apakah si gaya hidup tersebut pantas diadopsi oleh mereka, dan mereka pun tidak tahu hal ini baik atau buruk, yang penting ikut tren dan mereka merasa dirinya gaul, simpelnya sih kata ini sama dengan labil. Okay, akhirnya saya mendapatkan sebuah definisi tentang apa alay itu. Tapi kenapa definisi alay yang ada di masyarakat jadi meluas?
Mau bukti? Lihat saja bagaimana lingkungan kita mendifinisikan Kangen Band. Dan kalau kamu sering ubek-ubek KasKus pastilah kamu tau apa itu Garnet Band. Itu tuh, band asal Jawa Timur kalau saya tidak salah yang fashion stylenya astagfirullah sekali. Di banyak kesempatan, banyak yang mengatakan, termasuk saya, acara-acara request music dimana acara tersebut dibuat live, artisnya berisi band-band yang kurang bermutu yang membawakan lagunya dengan cara lipsync, dimana groupies adalah orang-orang berpenapilan norak dan berlebihan yang berjoget-joget gak jelas adalah acara para alay, tak usahlah disebut acaranya apa wahai kamu juga sudah pasti tau itu acaranya apa. Di friend-networking sites macam Facebook dan Friensdster pun ada profil alay. Mereka yang mendeskripsikan diri merekadengan bahasa Inggris belepotan dan narsis (‘Aku tuh, baek, lucu, imut, dsb.) dianggap alay. Tapi yang paling menegjutkan adalah ketika saya menemukan sebuah group page di Facebook yang namanya “Against ALAY In FACEBOOK.” Page ini adalah himpunan manusia trendi yang merasa dirinya tidak alay dan menghina alay lewat profilnya dengan mendeskripsikan gaya-gaya alay yang nyaris lengkap dan mungkin itu salah merupakan pedoman beberapa dari kalian pembaca tulisan ini yang merasa dirinya trendi. Gaya SMS pun ada yang diistilahkan sebagai SMS Alay. Gaya ngetik yang sulit dimengerti dan hurufnya gede kecil (contoh: Qm gY Aph?) adalah alay. Saya pun merujuk kepada teman saya, Kiki, “Alay itu orang-orang kampungan, yang suka nongkrong ga jelas, kaya anak-anak di BIP, itu alay.” Wah apakah sekarang ada pula tempat nongkrong alay? Kalau begitu kamu anak-anak trendi yang gak alay pintar-pintar lah milih tempat nongkrong, biar kamu gak jadi alay.
Dari apa yang saya lihat dan saya dengar jelaslah kalau pendifinisian soal alay sudah kelewat jauh. Kenapa bisa begitu luas definisinya dan kenapa bisa ada yang dibegitukan (digolongkan alay)? Saya merujuk kepada suatu alat hiburan hasil peradaban abad 20 bernama televisi. Kaum yang disebut alay bermunculan akibat adanya televisi. Mengapa televisi? Karena televisi adalah sebuah hiburan rakyat yang sifatnya instan dan bisa mendoktrin kamu dengan cepat apabila kamu dalam sehari menonton berbagai hiburan terkini, apalagi kalau kamu nontonnya infotainment dan sinetron yang isinya bintang-bintang yang ganteng, cantik, dan modis di TV paling tidak 6 jam sehari, rakyat kalangan bawah yang (maaf) fisiknya mayoritas tidak menunjang, dan kurang secara finansial sering melakukan kebiasaan macam ini akan terbangkitkan keinginannya untuk menjadi seperti mereka, memanfaatkan semua yang mereka miliki untuk berusaha menjadi semirip mungkin dengan apa yang mereka puja. Yang mereka tidak sadari adalah bahwa yang mereka terapkan itu tidak pantas dan tentunya tidak enak dilihat dan jadi norak menurut kita orang-orang kota yang memiliki fisik dan kemampuan secara finansial yang’pas’ (paling tidak itu menurut saya), yang akhirnya kita sebut alay. Televisi pula yang membuat pendifinisian kita soal alay makin luas. Buktinya? Lihat saja acara-acara musik live tadi. Karena acara tersebut dihadiri alay dan saya yakin banyak dari kamu, juga termasuk saya kadang-kadang suka melihatnya hampir setiap hari di pagi hari sebelum kamu kuliah. Karena acara itu dihadiri alay maka kamu pun menyebut itu acara alay walaupun secarakamu tidak sadari kamu nonton itu tiap hari. Aah tidak, jadi kita termasuk alay? (mungkin setelah baca ini kamu langsung ketar-ketir berhenti liat acara macam tadi demi tidak disebut alay, paling tidak kamu mantan alay.)
Kalau menurut saya pribadi, kita semua alay, hanya kadarnya saja yang berbeda. Setiap manusia selalu punya sisi kampungan di dalam dirinya, sekalipun kamu anak gaul yang selalu up to date dan punya teman yang ganteng-ganteng dan canik-cantik tak lupa modis, tetaplah kamu alay, seperti kata Immanuel Kant, “Kebenaran itu sifatnya relatif.” Dan seperti kata sebuah teori, kebenaran adalah kebohongan yang diulang-ulang.”, yang akhirnya saya simpulkan menjadi teori saya sendiri bahwa kebenaran itu relatif tergantung seberapa sering lingkungan kamu mengulangi membohongi kamu. Lagipula tidaklah tepat kita mengatakan alay adalah orang-orang macam itu. Seharusnya yang digolongkan para alay itu adalah sekumpulan orang yang melakukan kegiatan gak bermanfaat seperti mabuk-mabukkan, clubbing dsb, yang mereka sendirigak tau itu manfaatnya apa dan buruknya apa, yang penting saya up to date. Maka dari itu, setelah membaca ini berhati-hatilah kalau kamu mengatakan bahwa kamu bukan alay dan bilang si ini alay atau si itu alay. Karena alay itu cuma masalah perspektif. Jadi, apakah kamu alay? Apakah saya yang alay? Ataukah kita semua yang alay?

Salam Penulis :-bd

Rabu, 24 Juni 2009

Sebuah Pendapat, Tentang Kasus Prita mulyasari.

Akhir bulan Mei hingga ke awal Juni ini kita dikejutkan oleh banyak berita di infotainment maupun di berita-berita pagi, siang, dan malam. Beritanya pun variatif. Mulai dari adu kuat kampanye ketiga capres pemilu 2009, terganggunya blok ambalat oleh tetangga kita, Malaysia, yang katanya se-‘rumpun’. Hingga keributan ‘blok’ Manohara Odelia Pinot, seorang model asal Indonesia yang katanya mengalami KDRT oleh sang suami yang merupakan Sultan dari kerajaan Kelantan dari Malaysia. Yang terakhir ini memang mengundang euphoria yang luar biasa dari publik Indonesia. Namun, berita yang terbaru ini adalah yang paling mengejutkan diantara semua (menurut saya paling tidak), kalau ingatan sodara belum terpenuhi oleh euforia Manohara, maka marilah sejenak kita beralih ke seorang sosok wanita 32 tahun dengan 2 anak bernama Prita Mulyasari.




Apa yang istimewa dari sosok ibu ini? Sebetulnya, dia hanyalah sosok seorang ibu biasa yang menyayangi suami dan anaknya juga memiliki pekerjaan yang biasa-biasa saja. Namun seketika hidupnya berubah menjadi luar biasa ketika dia menulis sebuah surat elektronik alias e-mail yang dia sebarkan ke 10 orang temannya dan ternyata surat itu tersebar oleh pihak tidak bertanggung jawab yang akhirnya sampai ke tangan pihak RS Omni Internasional, pihak RS yang bersangkutan yang diduga melakukan malpraktek terhadap ibu Prita ini. Pihak RS Omni menganggap e-mail ibu ini adalah sebuah cara ‘black campaign’ terhadap kualitas dan kredibilitas rumah sakitnya yang notabene bertaraf Internasional. Dia dijerat dengan 3 pasal berlapis, yaitu pasal 27 ayat 3 jo 45 ayat 1 UU 11/2008 tentang ITE, sebuah pasal tentang pelanggaran transaksi elektronik dan informatika (saya tidak ingat apa nama sebenarnya) dengan ancaman 6 tahun penjara dengan denda Rp 1 miliar. Ditambah denga dakwaan subsider Prita pasal 310 dan 311 KUHP tentang pencemaran nama baik dengan ancaman 1 tahun penjara. Berita ini makin ‘sedap’ setelah ‘dibumbui’ adanya desas-desus tentang ketidakprofesionalan jaksa dalam menangani kasus yang bersangkutan, adanya indikasi menguntungkan pihak penggugat yaitu RS Omni Internasional.

Tak pelak hal ini membuat saya ingin mengulas peristiwa ini dengan seksama. Bukan bermaksud usil atau membela salah satu pihak, saya hanya sekedar ingin mengeluarkan uneg-uneg saya lewat blog/notes, apapun ini disebut.

Kasus ini bermula ketika pada tanggal 7 Agustus 2008, ketika ibu Prita datang ke RS Omni Internasional dan diketahui panasnya mencapai 39 derajat dan trombositnya dikatakan hanya sekitar 27.00 dari normalnya 200.00 dan akhirnya dia diminta untuk rawat inap. Dengan segenap kepercayaan bahwa rumah sakit yang bertaraf internasional tersebut akan melakukan tugasnya dengan baik, Prita pun setuju. Namun, keanehan mulai muncul setelah dokter yang bersangkutan, dr H mengatakan, bahwa hasil trombosit mengalami revisi, yang jelas-jelas tidak mungkin dilakukan setelah mengambil 1 sampel. Trombositnya dikatakan naik dengan drastis, yaitu 181.00 kini. Namun dr. H mengatakan tetap mengatakan Prita terkena demam berdarah. Dia disuntik dengan berbagai macam obat hingga tangan kanan dan kirinya, diikuti dengan pembengkakan mata dan leher sebelah kiri. Pendek kata, karena kepercayaan yang nyaris hilang, akhirnya suami Prita disertai kakaknya meminta bukti pemeriksaan bahwa trombosit Prita memang sempat hanya mencapai 27.00 sehingga diwajibkan untuk dirawat dengan cara yang bisa dibilang janggal tersebut. Alangkah kesalnya ketika pihak suami Prita hanya diberikan sebuah surat hasil cek lab medis yang isi trombositnya mencapai 181.00, yang notabene bahwa dengan jumlah trombosit sekian tidak semestinya untuk dirawat inap. Walaupun terus meminta hasil cek lab yang pertama, pihak RS malah memping-pong pihak Prita antara lab, dokter, dan manajemen RS.

Merasa hal ini sudah tidak beres, akhirnya dengan cepat Prita pindah ke RS lain. Tak dinyana, ternyata dia didiagnosa menderita virus menular, dan kondisi tubuhnya pun telah parah. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Namun, hal dengan RS Omni Internasional belumlah habis perkara. Suami dan kakak Prita tetap berusaha meminta surat hasil cek medis yang mengatakan bahwa trombositnya hanya mencapai 27.00. namun, sekali lagi mereka hanya digantung tak jelas oleh pihak manajemen RS. alangkah kesalnya ketika suami Prita mendengar penyangkalan dari dokter-dokter yang bersangkutan bahwa mereka tak pernah memeriksa hasil lab Prita dengan trombosit 27.00, yang ada hanyalah 181.00. Akhirnya mereka diberi sebuah surat, namun bukan surathasil cek lab yang mereka bayangkan. Mereka hanya diberi surat yang tertera permintaan maaf bahwa hasil lab tersebut adalah sebuah kesalahan beserta penyuntikan tersebut. Habis sudah rasa sabar dan percaya.

Menurut saya, adalah luar biasanya cerita ini untuk menjadi sebuah kenyataan. Bagaimana bisa seorang profesi dokter yang disebut pekerjaan mulia menjadi setidak professional itu? Hal ini menimbulkan keheranan yang luar biasa bagi saya. apakah mungkin Megawati Soekarno Putri benar, bahwa ini akibat adanya neo-liberalisme di pasar, yang kuat yang berkuasa dan kaum marjinal terbodohi dan tertindas? Adanya persaingan obat medis yang membuat pihak pembuat obat berlomba-lomba memberikan insentif agar dokter mau memakai obatnya di tiap kasus yang ia tangani? Kalau memang (dan tampaknya begitu) terjadi, entah mungkin ada beberapa kasus lagi yang terjadi dan akan terjadi. Penipuan kasus trombosit tersebut adalah bukti ketidakprofesionalan sebuah rumah sakit ‘Internasional’ ini. Mereka sengaja memalsukan jumlah trombosit Prita yang sebenarnya ke kondisi gawat sehingga pihak RS bisa menguras uang pihak Prita sebanyak mungkin. Apakah ini benar atau tidak, saya tak bisa memastikan karena saya hanya pihak penonton dan kasus pun masih bergulir. Tetapi apabila ini benar terjadi, saya hendak bertanya kepada pihak RS Omni, apakah sebegitu murahnya nyawa manusia bagi kalian sehingga bisa kalian jadikan eksperimen? Lalu kemana sumpah dokter yang dilakukan para dokter yang memeriksa Prita yang menjadi tonggak awal dari asas konfidensialitas antara dokter dan pasien? Alangkah memprihatinkan bahwa manajemen RS Omni menjadikan Prita menjadi seekor kelinci percobaan atas obat-obat yang mereka punya yang penyakitnya pun jauh dari penyakit Prita yang sebenarnya. Ketika ketahuan hasil diagnose tersebut adalah sebuah rekayasa oleh RS, mereka semua lepas tangan. Tampaknya persaingan brand obat-obatan tersebut sudah membutakan para dokter bahwa dokter adalah sebuah profesi mulia, sebuah profesi yang tujuannya menyembuhkan orang, bukan mengeruk keuntungan dan bereksperimen pada pasien!

Saya pun heran terhadap manajemen RS Omni. Mereka bisa sampai setega itu dengan merekayasa hasil lab Prita dan membuat Prita dirawat inap. Mungkin saja (bukan menuduh) ada puluhan atau ratusan kasus lain yang terjadi di RS Omni atau RS lainnya yang setaraf atau lebih tinggi. Kalau memang iya, kenapa RS Omni bisa dikatakan bertaraf Internasional? Apakah karena ranjang mereka yang baru, dokter muda dan ternama, dan obat-obatan mereka yang lengkap dan bisa dilakukan kombinasi untuk eksperimen? Alangkah memprihatinkan melihat pelayanan publik masyarakat Indonesia kini dalam keadaan kacau (kalau tak mau dibilang buruk). Banyaknya kecelakaan transportasi darat, laut, dan udara swasta dan negeri. Banyaknya pungli dan kongkalingkong dalam pembayaran pajak, pembuatan akte tanah, paspor dsb. Pelayanan perusahaan negara dan swasta, seperti pelayanan PLN dan PDAM. Hingga kini, banyaknya kasus malpraktek dokter-dokter Indonesia. Hingga kini saya pun bingung, dimana saya bisa mendapatkan servis yang baik dan layak oleh para ‘pelayan’ saya tersebut?

Dan kini saya ingin beralih ke proses hukum yang dijalani Prita. Prita dijerat dengan 3 pasal berlapis, yaitu pasal 27 ayat 3 jo 45 ayat 1 UU 11/2008 tentang ITE, sebuah pasal tentang pelanggaran transaksi elektronik dan informatika (saya tidak ingat apa nama sebenarnya) dengan ancaman 6 tahun penjara dengan denda Rp 1 miliar, seperti yang saya sudah sebutkan diawal. Namun, timbul permasalahan baru dalam proses ini. Jaksa yang menangani kasus tersebut dianggap tidak professional. Ada indikasi bahwa pihak jaksa penuntut berusaha menguntungkan pihak RS Omni setelah jaksa agung Hendarman Supandji, menjelaskan bahwa ketika pihak kejaksaan melihat adanya kekurangan pasal dalam kasus Prita yang diajukan ke Kejati Banten. Yang semestinya harus ada pasal 27 jo Pasal 45 UU no.11 tahun 2008 menyangkut ITE. Pihak kepolisian hanya menaruh pasal tersebut diatas berkas, tidak dimasukkan ke dalam berita acara pendapat kepolisian. Sehingga dari situ timbul kekeliruan oleh pihak jaksa karena menyatan berita acara sudah P-21 atau lengkap. Padahal penambahan tersebut tidak dimasukkan kedalam berita acara. Hal ini membuat orang-orang berpendapat bahwa kepolisian dan Kejati Banten menganggap sepele kasus ini, seakan-akan ini kasus yang tak penting karena tujuannya hanya agar sang terdakwa dipenjara, sehingga timbul kecurigaan pihak jaksa bekerja sama dengan pihak RS Omni untuk menjebloskan Prita ke dalam penjara. Kalau memang hendak diadili dan pihak Prita memang bersalah, adililah dengan benar dan entah berapa kali saya sudah katakan hal ini, profesional!

Tentunya semua uneg-uneg ini sudah tiada guna, tidak akan mengalihkan perhatian masyarakat Indonesia dari infotainment yang mengulas si cantik Manohara. Namun, dari sini saya hendak menyuarakan pendapat saya tentang carut marut pelayanan publik di Indonesia. Mungkin ini pekerjaan rumah baru untuk capres kita mendatang yang entah siapa, untuk menindak tegas segala konspirasi ala neo-liberalis yang selalu berusaha mencari keuntungan lewat pasar tak peduli apapun yang dikorbankan. Ini juga menjadi tamparan bagi masyarakat kita bahwa kita harus menjadi masyarakat yang lebih jeli untuk melihat apa yang dimiliki oleh suatu pihak tawarkan, jangan hanya melihat embel-embel ‘Internasional’ ataupun ‘Terpercaya’. Jangan membeli kucing dalam karung, ingat, harga dan tampilan bukanlah segalanya! Sebuah bekal yang menurut saya bisa menjadi bekal untuk kita agar lebih cermat dalam memilih dalam Pilpres 2009 nanti. Hal ini juga menjadi sebuah tuntutan bagi profesi-profesi yang membutuhkan dedikasi dan profesionalitas seperti dokter dan jaksa untuk bertindak semestinya pada saat yang seharusnya. Karena ketika kasus yang ditangani telah melebar menjadi konsumsi publik seperti yang dialami Prita, tentunya ini tak akan menjadi situasi yang mengenakkan bagi pihak-pihak yang bersangkutan. Profesional lah wahai dokter dan jaksa. Sekedar saran untuk kasus ini, saya kiramasih bisa dilakukan mediasi antara kedua belah pihak. Sebab, pihak Prita pun melakukan kesalahan ketika dia menyebarkan suratnya ini lewat e-mail secara tidak langsung, walaupun bukan Prita yang menyebarkan, padahal bisa lewat koran seperti Kompas atau Pikiran Rakyat yang memiliki segmen suara konsumen dan akan mendapatkan perlindungan hukum apabila terjadi sesuatu di luar dugaan. Negara ini memang demokrasi, tetapi itu bukan berarti kita bisa membual seenaknya dibawah naungan lima butir Garuda Pancasila. pihak RS pun bersalah karena sudah memalsukan hasil lab dan melakukan malpraktek dengan menyuntikan obat-obatan yang tak semestinya diberikan. Walaupun dari analisa yang saya lakukan semestinya pihak terdakwalah yang seharusnya mendakwa.

Sekali lagi, saya hanya berusaha menyuarakan pendapat saya sebagai rakyat di negara demokrasi ini, yah mungkin juga untuk memberikan sedikit dorongan moral kepada ibu Prita Mulyasari dan menyampaikan pesan “you’re not alone,” dari seluruh masyarakat Indonesia. Tentunya semua yang mengikuti perkembangan kasus ini mengharapkan penyelesaian kasus yang terbaik untuk kedua belah pihak. Kasus Manohara memang sebuah kasus antara dua suku serumpun di dua negara dimana penyiksaan dari tetangga kita itu sudah menjadi hal klasik dan harus juga dibela. Namun menurut saya kasus Prita harus lebih kita cermati, sebab kasus seperti ini bisa terjadi pada kita kapan saja. Kecuali kalau kita memang hendak menikah dengan orang Malaysia J. Bagaimana pendapat anda?

Akhir kata, Terima kasih sudah membaca, Wassalam.

(Dendy Nugraha, dari berbagai sumber)